Fifteen civil society groups have called upon the authorities to put an end to book banning as the first step towards promoting diversity and respect in our society.
We, the undersigned, are alarmed at the increasing rate of hostilities levelled against certain publications, leading to either their outright banning and seizures, or even in some cases, hostility against and the arrest of their authors and publishers.
While there has been uproar against Irshad Manji’s ‘Allah, Kebebasan dan Cinta [Allah, Liberty and Love]‘ recently, the trend started much earlier with the banning of works by Karen Armstrong, Salman Rushdie, Khalil Gibran, Irvine Welsh and Iris Chang, among others.
Even the works of local authors such as Faisal Tehrani and Kassim Ahmad and cartoonist Zunar have not been spared.
It seems this banning frenzy led by the Home Ministry knows no limit. Zulkifli Noordin, Member of Parliament for Kulim-Bandar Baharu, also recently called for the ban of ‘Kahwin Campur antara Muslim dengan Non-Muslim [Mixed Marriages between Muslims and Non-Muslims]‘ published by Institut Kajian Dasar.
Not only do such measures contradict the government’s supposedly moderate or wasatiyah stand on issues of diversity and tolerance, it stifles discourse and views required by any mature and developing democracy. In a healthy democracy, progress can be measured by space given to different views without fear of retribution.
It also provides a pretext for the wanton exercise of power under the guise of religious order, with not only the Home Ministry’s Publications Control and Quranic Text Division carrying out seizure of books but also the Federal Territories Islamic Affairs Department (Jawi) and the Selangor Islamic Affairs Department (Jais).
These measures blatantly favour only one or two interpretations or solutions to key issues affecting Malaysian life and society at the expense of others.
Book banning is a draconian measure that is not only ineffective but contrary to the spirit of dialogue and engagement that Malaysia desperately needs.
Malaysia as a nation of diverse identities, religions and cultures should embrace and welcome the complex interaction and exchange of ideas that is rapidly expanding in this era of globalisation. In that, the ethics of agreeing to disagree is crucial to ensure mutual respect for diverging ideas and dissenting views.
We call upon the authorities in Malaysia to put an end to book banning as the first step towards promoting diversity and respect in our society.
Kami, masyarakat madani seperti tertera di bawah bimbang dengan peningkatan tahap permusuhan yang dilancarkan terhadap beberapa syarikat penerbitan, yang membawa sama ada pengharaman mutlak dan perampasan, atau malah dalam beberapa kes, permusuhan dan penahanan ke atas penulis, penerbit dan penjualnya.
Sementara terdapat keributan terhadap karya Irshad Manji Allah, Kebebasan dan Cinta baru-baru ini, tren ini telah bermula lebih awal dengan pengharaman buku-buku Karen Armstrong, Salman Rushdie, Khalil Gibran, Irvine Welsh dan Iris Chang, antara lainnya.
Malah karya yang dihasilkan oleh penulis tempatan, seperti Faisal Tehrani dan Kassim Ahmad dan pelukis kartun Zunar tidak terlepas daripada menjadi sasaran. Nampaknya keghairahan aktiviti pengharaman yang digerakkan oleh Kementerian Dalam Negeri ini tidak mengenal batas. Zulkifli Noordin, ahli parlimen dari Kulim-Bandar Baharu, juga baru-baru ini menuntut supaya diharamkan buku Kahwin Campur antara Muslim dengan Non-Muslim yang diterbitkan oleh Institut Kajian Dasar.
Tidak hanya pendekatan ini bercanggah dengan prinsip kesederhanan wasatiyah yang dicanang oleh kerajaan terhadap isu kepelbagaian dan toleransi. Ia malah menghambat wacana dan pandangan yang diperlukan oleh mana-mana demokrasi yang matang dan membangun. Dalam demokrasi yang sihat, kemajuan dapat diukur dengan ruang yang diberikan kepada pendapat yang berbeza tanpa takut dikritik.
Ia juga menjadi alasan bagi taktik nakal penguasa yang berdalihkan perintah agama, dengan tidak hanya Bahagian Pengawalan Teks al-Qur’an Kementerian Dalam Negeri yang melakukan serbuan dan perampasan tetapi juga Jabatan Agama Islam Wilayah Persekutuan (Jawi) dan Jabatan Agama Islam Selangor (Jais).
Pendekatan ini jelas hanya mengambil satu atau dua interpretasi atau penyelesaian terhadap isu pokok yang membabitkan kehidupan masyarakat Malaysia dengan mengenepikan alternatif yang lain.
Pengharaman buku adalah langkah kejam yang tidak hanya tidak berkesan malah bertentangan dengan semangat dialog dan perundingan yang Malaysia sangat perlukan.
Malaysia sebagai sebuah bangsa yang mempunyai identiti, agama dan budaya yang rencam, harus mendakap dan meraikan interaksi yang kompleks dan pertukaran ide yang semakin rancak berkembang dalam era globalisasi ini. Dengan itu, etika bersetuju untuk tidak bersetuju sangat mustahak untuk diterap bagi memugar rasa hormat terhadap ide yang berlainan dan pandangan yang berbentur.
Kami dengan ini memuntut pihak penguasa di Malaysia untuk menghentikan pengharaman buku sebagai langkah pertama untuk meraikan nilai kepelbagaian dan saling hormat dalam masyarakat kita.
Endorsed by/Disokong oleh:
- Aliran
- All Women’s Action Society (AWAM)
- Centre for Independent Journalism (CIJ)
- Islamic Renaissance Front (IRF)
- Perak Women for Women Society (PWW)
- Persatuan Kesedaran Komuniti Selangor (Empower)
- Persatuan Masyarakat Selangor & Wilayah Persekutuan (Permas)
- Persatuan Sahabat Wanita Selangor
- Pusat KOMAS
- Saya Anak Bangsa Malaysia (SABM)
- Sisters in Islam (SIS)
- Suaram
- Tenaganita
- Women’s Aid Organisation (WAO)
- Women’s Centre for Change (WCC)



Diakhir zaman akan terjadi pertarungan dahsyat antara orang yang ingin memurnikan agamanya,orang yang ingin berpegang teguh pada konsep kebenaran Ilahi yang baku-hakiki versus orang yang ingin mengkonsep agama mengikuti jalan pemikirannya sendiri, orang yang ingin agama diubah mengikuti sudut pandang manusia.mereka mencoba ‘mengawinkan’ agama dengan berbagai bentuk isme (kacamata sudut pandang manusia) seperti : liberalisme,humanisme,feminisme,sekularisme,dlsb. padahal itu seperti upaya menyatukan air dengan minyak.dalam kacamata agama itu adalah upaya mencampurkan antara yang hak dengan yang batil.
Tetapi itulah salah satu ciri akhir zaman menjelang kehancuran alam semesta.saat ini kita harus menjernihkan hati dan fikiran,banyak mohon petunjuk pada Tuhan sebab pemikiran bebas-negatif kian merajalela bahkan yang menggunakan topeng agama dimana agama diperalat untuk mengekpresikan nafsu pemikiran bebas.
Ibarat kita ingin membuat resep adonan masakan dengan rasa manis,seluruh bumbu apapun tentu boleh dimasukan kedalamnya,dan cara mengolahnyapun tentu bebas sesuai keahlian,tapi ingat : rasa manis itu tidak boleh hilang.
Begitu pula semua ke riuh an perihal : ijtihad-rekonstruksi dlsb. tentu semua itu boleh dilakukan asal tujuan utamanya bersifat essensial : menegakkan kebenaran Ilahi,bila tujuan utamanya : menegakkan ‘kebenaran’ versi sang pemikir itu sudah keluar dari essensi.sebagai contoh : debat-ijtihad seputar ‘pakaian islami’ tentu boleh bila tujuan akhirnya adalah untuk menguatkan perintah agama agar wanita berkerudung,tapi bila ijtihad mati matian dengan mengerahkan seluruh argumentasi adalah untuk agar kewajiban berkerudung menjadi tidak wajib itu sudah keluar dari essensi.yang harus dilakukan umat Islam adalah memaknai kembali apa yang ada dalam agama dengan melihatnya dari berbagai sudut pandang lain yang baru,misal : hukum babi haram,kita melihatnya dari sudut pandang baru misal sudut pandang kedokteran : mengapa dan apa makna babi diharamkan (?) sebab bisa jadi sudut pandang ini belum ada dizaman Rasul, ini adalah contoh sederhana ‘pembaharuan’ atau ‘rekonstruksi’ yang tidak merusak tapi malah menguatkan.
Jadi ide ‘rekonstruksi’ bukan malah untuk merusak atau menghancurkan sendi sendi agama tapi justru harus makin mengokohkannya.dewasa ini ada beragam ‘peralatan’ para pemikir bebas yang sering digunakan kala mereka memasuki wilayah kajian ke agama an : ide pluralisme,h.a.m,kesetaraan gender dlsb.semua itu biasa digunakan untuk ‘merekonstruksi’ agama tapi hasilnya seringkali bukan untuk mengokohkan serta memperkuat bangunan agama tapi malah untuk …………
Ijtihad seputar apapun yang ada dalam agama tentu suatu keharusan bila tujuannya : untuk menguatkan konsep kebenaran Ilahi,untuk menguatkan perintah Ilahi kalau untuk membuat ragu kepada konsep Ilahi atau untuk melemahkan semangat untuk melaksanakan perintah Ilahi atau untuk membuang suatu yang menjadi sendi agama apakah itu ‘ijtihad’ atau argument untuk (maaf) ‘kufur’ (?)
Ingat agama memiliki essensi yang tidak akan pernah berubah dari zaman ke zaman sebab bersifat hakiki (walau ‘kemasannya’ atau cara menyampaikan essensi itu berubah ubah dari zaman ke zaman,analogynya : hakikat rasa manis gula itu dari zaman ke zaman tidak berubah walau berbagai bentuk kue telah dibuat),dan essensi itu bisa ‘dilihat dan dibaca’ oleh orang yang peka ruhani (hati nuraninya) dan kuat logika akalnya,essensi itu menjalani ujian dari zaman ke zaman serta dihadapkan kepada ribuan prolematika yang beragam dan berbeda beda termasuk ujian berat ketika dihadapkan kepada berbagai bentuk pemikiran bebas manusia atau ‘isme’ atau ‘kebenaran versi sudut pandang manusia’,siapa yang keluar dari berbagai ujian itu dengan tetap membawa essensi agama ia lulus ujian tapi siapa yang kehilangan essensi agamanya akibat tergerus oleh godaan arus pemikiran bebas manusia,oleh ketakutan akan ‘stigma negative’ dan berbagai bentuk godaan lain maka ia gagal !